Jeritan Curhatan Haflatul Imtihan

AINUL FALAH
0


 

Bungkusan Haflatul Imtihan

Curhatan Al-Faqir

Kadang kalau melihat pawai imtihan dengan drumband dan daul-daul di Pamekasan dan Sumenep, hati ini benar-benar seperti berada di antara dua ruang yang berbeda, seakan-akan tidak bisa menentukan harus berdiri di sisi mana, atau bahkan harus merasakan yang mana lebih dominan. Di satu sisi, suasananya begitu hidup, begitu meriah, dan terasa seperti denyut nadi desa yang sedang benar-benar berpesta. Dari kejauhan saja suara sudah lebih dulu datang sebelum rombongan terlihat. Dentuman drumband yang teratur, berpadu dengan hentakan daul-daul yang keras, berat, dan berulang-ulang, menciptakan getaran suasana yang tidak hanya terdengar oleh telinga, tetapi juga terasa di dada. Seakan-akan seluruh desa dipanggil untuk berhenti sejenak dari kesibukan masing-masing dan keluar rumah untuk menyaksikan sesuatu yang dianggap penting dan membanggakan.

Ketika rombongan itu semakin dekat, suasana menjadi semakin padat dan penuh. Anak-anak yang menjadi peserta pawai berjalan dengan langkah yang kadang terlihat tegang namun penuh semangat. Ada yang fokus menjaga irama, ada yang berusaha tampil sebaik mungkin di hadapan masyarakat yang menyaksikan tanpa henti. Di wajah mereka terlihat campuran antara rasa bangga, gugup, dan bahagia karena berada di tengah perhatian banyak orang. Bagi sebagian mereka, ini bukan sekadar kegiatan sekolah, tetapi sebuah pengalaman yang mungkin akan mereka ingat dalam waktu yang lama, karena menjadi bagian dari barisan besar yang disaksikan seluruh kampung.

Di sepanjang jalan, masyarakat berdiri tanpa jarak yang jelas antara ruang penonton dan ruang jalan itu sendiri. Batas antara keduanya seolah-olah hilang. Rumah-rumah terbuka lebar, pagar tidak lagi menjadi pembatas, dan halaman berubah menjadi tribun alami bagi warga yang ingin menyaksikan pawai dari dekat. Ada yang membawa kursi sendiri dari rumah, ada yang sudah berdiri sejak pagi demi mendapatkan posisi terbaik, ada pula yang menggendong anak kecil sambil tetap bertahan di bawah panas matahari. Suasana ini membuat desa terasa seperti satu panggung besar, di mana semua orang menjadi bagian dari pertunjukan, baik sebagai peserta maupun sebagai penonton.

Dalam kondisi seperti itu, imtihan tidak lagi sekadar kegiatan pendidikan atau agenda sekolah tahunan. Ia berubah menjadi sebuah peristiwa sosial yang melampaui batas-batas formal pendidikan. Ada rasa kebersamaan yang kuat, ada interaksi sosial yang hidup, dan ada kebanggaan kolektif yang dirasakan oleh masyarakat. Seolah-olah desa sedang merayakan identitasnya sendiri, melalui suara musik, langkah barisan, dan sorakan warga yang memenuhi setiap sudut jalan.

Namun semakin lama memperhatikan, semakin terasa pula bahwa di balik kemeriahan itu terdapat sisi lain yang tidak bisa diabaikan, meskipun sering kali tidak menjadi perhatian utama. Jalan yang biasanya menjadi ruang gerak utama masyarakat tiba-tiba kehilangan fungsinya yang paling dasar. Jalan yang seharusnya menjadi jalur kendaraan, penghubung antarwilayah, tempat distribusi barang, dan sarana mobilitas harian, mendadak berubah menjadi arena utama pawai. Semua ruang dipenuhi oleh manusia, suara musik, dan gerakan barisan yang terus berjalan tanpa henti.

Kendaraan yang datang dari arah berlawanan sering kali harus berhenti jauh sebelum titik pawai terlihat. Pengendara hanya bisa menunggu dari kejauhan, mengamati keramaian yang tampak tidak ada ujungnya. Tidak ada pilihan lain selain bersabar. Mesin dimatikan, beberapa orang turun dari kendaraan, dan suasana berubah menjadi ruang tunggu yang tidak direncanakan. Ada yang tetap tenang, mencoba menerima keadaan sebagai sesuatu yang wajar di desa, tetapi ada juga yang mulai menunjukkan rasa gelisah karena waktu mereka terus berjalan sementara perjalanan tidak bergerak sama sekali.

Situasi ini menjadi semakin berat ketika pawai berlangsung cukup panjang dan tidak ada kepastian kapan akan selesai. Tidak jarang kendaraan akhirnya benar-benar terhenti dalam waktu yang lama, bahkan hingga menimbulkan penumpukan di beberapa titik. Dalam keadaan seperti ini, waktu seakan melambat, dan setiap menit terasa lebih panjang dari biasanya. Bagi sebagian orang mungkin ini hanya gangguan sementara, tetapi bagi mereka yang memiliki urusan penting, seperti bekerja, berdagang, atau mengantar sesuatu yang mendesak, kondisi ini bisa menjadi beban tersendiri yang tidak mudah diabaikan.

Lebih jauh lagi, persoalan ini semakin kompleks ketika alternatif jalan tidak tersedia dengan baik. Di banyak wilayah pedesaan, khususnya di Madura, jalur alternatif sering kali sempit, tidak layak, atau bahkan tidak ada sama sekali. Hal ini membuat masyarakat tidak memiliki banyak pilihan. Mereka harus mengikuti arus pawai, menunggu tanpa kepastian, atau memutar jauh dengan risiko waktu tempuh yang jauh lebih lama. Dalam keadaan seperti ini, pawai yang dimaksudkan sebagai kebanggaan dan perayaan justru tanpa disadari menciptakan tekanan tambahan bagi sebagian masyarakat lainnya.

Yang membuat hati semakin terasa berat adalah ketika menyadari bahwa persepsi masyarakat terhadap situasi ini sangat beragam, meskipun mereka hidup dalam ruang yang sama. Ada yang menikmati dan benar-benar menantikan momen ini setiap tahun, menganggapnya sebagai hiburan, tradisi, dan simbol kebersamaan yang tidak tergantikan. Bagi mereka, suara drumband dan daul-daul adalah bagian dari identitas desa yang harus dirayakan. Namun di sisi lain, ada juga yang merasakan dampak langsung berupa keterlambatan, ketidak nyamanan, dan gangguan aktivitas, meskipun mereka tidak selalu menyampaikannya secara terbuka. Mereka hanya bisa menunggu, diam, dan menyesuaikan diri dengan keadaan yang sedang terjadi.

Di tengah semua itu, panitia dan peserta pawai juga sebenarnya tidak berada dalam posisi yang mudah. Mereka bukan sedang bermaksud mengganggu orang lain, tetapi sedang menjalankan tradisi yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan pendidikan di lingkungan mereka. Drumband dan daul-daul bukan sekadar hiburan atau formalitas acara, tetapi hasil dari proses panjang latihan, disiplin, dan kerja keras. Setiap ketukan, setiap langkah, dan setiap formasi yang ditampilkan adalah hasil dari persiapan yang tidak singkat. Dari sudut pandang mereka, ini adalah momen puncak kebanggaan setelah perjalanan panjang belajar dan berlatih.

Pada titik ini, hati sering kali sampai pada kesadaran bahwa yang terjadi sebenarnya bukanlah benturan sederhana antara yang mengganggu dan yang terganggu. Ini adalah pertemuan antara dua kebutuhan yang sama-sama memiliki dasar yang kuat. Satu sisi adalah kebutuhan untuk mengekspresikan budaya, pendidikan, dan kebersamaan dalam bentuk yang meriah dan terbuka. Sisi lainnya adalah kebutuhan akan keteraturan, kelancaran mobilitas, dan hak setiap individu untuk menggunakan ruang publik tanpa hambatan. Keduanya tidak saling meniadakan, tetapi ketika berada dalam ruang yang sama tanpa pengaturan yang memadai, gesekan menjadi sesuatu yang hampir tidak dapat dihindari.

Dari pengalaman seperti ini, muncul pemikiran yang cukup mendalam bahwa mungkin persoalan utamanya bukan terletak pada keberadaan pawai itu sendiri, tetapi pada cara pelaksanaannya di ruang publik. Jalan umum pada dasarnya adalah milik bersama, sehingga ketika digunakan untuk kegiatan besar, diperlukan pengelolaan yang lebih matang, lebih terencana, dan lebih mempertimbangkan dampaknya secara luas. Bukan untuk membatasi kegembiraan, tetapi untuk memastikan bahwa kegembiraan tersebut tidak menimbulkan beban yang berlebihan bagi pihak lain yang juga memiliki hak yang sama atas ruang tersebut.

Namun lebih dari sekadar pengaturan teknis, yang paling penting sebenarnya adalah tumbuhnya kesadaran kolektif di dalam masyarakat. Kesadaran bahwa setiap orang memiliki kepentingan yang berbeda tetapi hidup dalam ruang yang sama. Kesadaran bahwa tradisi akan tetap hidup bukan karena dibiarkan tanpa batas, tetapi karena mampu beradaptasi dengan kebutuhan zaman dan kondisi sosial yang terus berubah. Dan kesadaran bahwa ketertiban bukanlah lawan dari budaya, melainkan bagian dari upaya menjaga agar budaya tersebut tetap dapat dinikmati bersama tanpa menimbulkan kerugian bagi pihak lain.

Akhirnya, dari semua pengalaman, pengamatan, dan perasaan yang muncul di tengah pawai itu, hati ini sering sampai pada satu kesimpulan yang sederhana namun sangat dalam. Bahwa kehidupan di pedesaan seperti di Pamekasan dan Sumenep selalu mengajarkan tentang keseimbangan yang tidak selalu mudah untuk dijaga. Ada saatnya menjadi bagian dari keramaian, menikmati musik, sorakan, dan kebanggaan bersama. Tetapi ada juga saatnya harus menjadi bagian dari mereka yang menunggu, memberi jalan, dan bersabar dalam keterbatasan ruang dan waktu. Jika semua itu dapat dipahami sebagai bagian dari kehidupan bersama, maka pawai imtihan tidak lagi hanya dipandang sebagai sumber kemacetan, tetapi sebagai cermin kehidupan sosial yang kaya, kompleks, dan penuh pelajaran tentang bagaimana manusia hidup berdampingan dalam perbedaan kepentingan yang harus selalu dikelola dengan kebijaksanaan.

                                                                                                            Bakeong 08 Juni 2026

                                                                                                            Al-Faqir

                                                                                                            Ach Baidlawi Bukhari

                                                                                                                       

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)