Bungkusan Haflatul Imtihan
Curhatan Al-Faqir
Kadang kalau melihat
pawai imtihan dengan drumband dan daul-daul di Pamekasan dan Sumenep, hati ini
benar-benar seperti berada di antara dua ruang yang berbeda, seakan-akan tidak
bisa menentukan harus berdiri di sisi mana, atau bahkan harus merasakan yang
mana lebih dominan. Di satu sisi, suasananya begitu hidup, begitu meriah, dan
terasa seperti denyut nadi desa yang sedang benar-benar berpesta. Dari kejauhan
saja suara sudah lebih dulu datang sebelum rombongan terlihat. Dentuman
drumband yang teratur, berpadu dengan hentakan daul-daul yang keras, berat, dan
berulang-ulang, menciptakan getaran suasana yang tidak hanya terdengar oleh
telinga, tetapi juga terasa di dada. Seakan-akan seluruh desa dipanggil untuk
berhenti sejenak dari kesibukan masing-masing dan keluar rumah untuk
menyaksikan sesuatu yang dianggap penting dan membanggakan.
Ketika rombongan itu
semakin dekat, suasana menjadi semakin padat dan penuh. Anak-anak yang menjadi
peserta pawai berjalan dengan langkah yang kadang terlihat tegang namun penuh
semangat. Ada yang fokus menjaga irama, ada yang berusaha tampil sebaik mungkin
di hadapan masyarakat yang menyaksikan tanpa henti. Di wajah mereka terlihat
campuran antara rasa bangga, gugup, dan bahagia karena berada di tengah
perhatian banyak orang. Bagi sebagian mereka, ini bukan sekadar kegiatan
sekolah, tetapi sebuah pengalaman yang mungkin akan mereka ingat dalam waktu
yang lama, karena menjadi bagian dari barisan besar yang disaksikan seluruh
kampung.
Di sepanjang jalan,
masyarakat berdiri tanpa jarak yang jelas antara ruang penonton dan ruang jalan
itu sendiri. Batas antara keduanya seolah-olah hilang. Rumah-rumah terbuka
lebar, pagar tidak lagi menjadi pembatas, dan halaman berubah menjadi tribun alami
bagi warga yang ingin menyaksikan pawai dari dekat. Ada yang membawa kursi
sendiri dari rumah, ada yang sudah berdiri sejak pagi demi mendapatkan posisi
terbaik, ada pula yang menggendong anak kecil sambil tetap bertahan di bawah
panas matahari. Suasana ini membuat desa terasa seperti satu panggung besar, di
mana semua orang menjadi bagian dari pertunjukan, baik sebagai peserta maupun
sebagai penonton.
Dalam kondisi seperti
itu, imtihan tidak lagi sekadar kegiatan pendidikan atau agenda sekolah
tahunan. Ia berubah menjadi sebuah peristiwa sosial yang melampaui batas-batas
formal pendidikan. Ada rasa kebersamaan yang kuat, ada interaksi sosial yang
hidup, dan ada kebanggaan kolektif yang dirasakan oleh masyarakat. Seolah-olah
desa sedang merayakan identitasnya sendiri, melalui suara musik, langkah
barisan, dan sorakan warga yang memenuhi setiap sudut jalan.
Namun semakin lama
memperhatikan, semakin terasa pula bahwa di balik kemeriahan itu terdapat sisi
lain yang tidak bisa diabaikan, meskipun sering kali tidak menjadi perhatian
utama. Jalan yang biasanya menjadi ruang gerak utama masyarakat tiba-tiba kehilangan
fungsinya yang paling dasar. Jalan yang seharusnya menjadi jalur kendaraan,
penghubung antarwilayah, tempat distribusi barang, dan sarana mobilitas harian,
mendadak berubah menjadi arena utama pawai. Semua ruang dipenuhi oleh manusia,
suara musik, dan gerakan barisan yang terus berjalan tanpa henti.
Kendaraan yang datang
dari arah berlawanan sering kali harus berhenti jauh sebelum titik pawai
terlihat. Pengendara hanya bisa menunggu dari kejauhan, mengamati keramaian
yang tampak tidak ada ujungnya. Tidak ada pilihan lain selain bersabar. Mesin
dimatikan, beberapa orang turun dari kendaraan, dan suasana berubah menjadi
ruang tunggu yang tidak direncanakan. Ada yang tetap tenang, mencoba menerima
keadaan sebagai sesuatu yang wajar di desa, tetapi ada juga yang mulai
menunjukkan rasa gelisah karena waktu mereka terus berjalan sementara
perjalanan tidak bergerak sama sekali.
Situasi ini menjadi
semakin berat ketika pawai berlangsung cukup panjang dan tidak ada kepastian
kapan akan selesai. Tidak jarang kendaraan akhirnya benar-benar terhenti dalam
waktu yang lama, bahkan hingga menimbulkan penumpukan di beberapa titik. Dalam
keadaan seperti ini, waktu seakan melambat, dan setiap menit terasa lebih
panjang dari biasanya. Bagi sebagian orang mungkin ini hanya gangguan
sementara, tetapi bagi mereka yang memiliki urusan penting, seperti bekerja,
berdagang, atau mengantar sesuatu yang mendesak, kondisi ini bisa menjadi beban
tersendiri yang tidak mudah diabaikan.
Lebih jauh lagi,
persoalan ini semakin kompleks ketika alternatif jalan tidak tersedia dengan
baik. Di banyak wilayah pedesaan, khususnya di Madura, jalur alternatif sering
kali sempit, tidak layak, atau bahkan tidak ada sama sekali. Hal ini membuat
masyarakat tidak memiliki banyak pilihan. Mereka harus mengikuti arus pawai,
menunggu tanpa kepastian, atau memutar jauh dengan risiko waktu tempuh yang
jauh lebih lama. Dalam keadaan seperti ini, pawai yang dimaksudkan sebagai
kebanggaan dan perayaan justru tanpa disadari menciptakan tekanan tambahan bagi
sebagian masyarakat lainnya.
Yang membuat hati
semakin terasa berat adalah ketika menyadari bahwa persepsi masyarakat terhadap
situasi ini sangat beragam, meskipun mereka hidup dalam ruang yang sama. Ada
yang menikmati dan benar-benar menantikan momen ini setiap tahun, menganggapnya
sebagai hiburan, tradisi, dan simbol kebersamaan yang tidak tergantikan. Bagi
mereka, suara drumband dan daul-daul adalah bagian dari identitas desa yang
harus dirayakan. Namun di sisi lain, ada juga yang merasakan dampak langsung
berupa keterlambatan, ketidak nyamanan, dan gangguan aktivitas, meskipun mereka
tidak selalu menyampaikannya secara terbuka. Mereka hanya bisa menunggu, diam,
dan menyesuaikan diri dengan keadaan yang sedang terjadi.
Di tengah semua itu,
panitia dan peserta pawai juga sebenarnya tidak berada dalam posisi yang mudah.
Mereka bukan sedang bermaksud mengganggu orang lain, tetapi sedang menjalankan
tradisi yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan pendidikan di lingkungan
mereka. Drumband dan daul-daul bukan sekadar hiburan atau formalitas acara,
tetapi hasil dari proses panjang latihan, disiplin, dan kerja keras. Setiap
ketukan, setiap langkah, dan setiap formasi yang ditampilkan adalah hasil dari
persiapan yang tidak singkat. Dari sudut pandang mereka, ini adalah momen
puncak kebanggaan setelah perjalanan panjang belajar dan berlatih.
Pada titik ini, hati
sering kali sampai pada kesadaran bahwa yang terjadi sebenarnya bukanlah
benturan sederhana antara yang mengganggu dan yang terganggu. Ini adalah
pertemuan antara dua kebutuhan yang sama-sama memiliki dasar yang kuat. Satu
sisi adalah kebutuhan untuk mengekspresikan budaya, pendidikan, dan kebersamaan
dalam bentuk yang meriah dan terbuka. Sisi lainnya adalah kebutuhan akan
keteraturan, kelancaran mobilitas, dan hak setiap individu untuk menggunakan
ruang publik tanpa hambatan. Keduanya tidak saling meniadakan, tetapi ketika
berada dalam ruang yang sama tanpa pengaturan yang memadai, gesekan menjadi
sesuatu yang hampir tidak dapat dihindari.
Dari pengalaman seperti
ini, muncul pemikiran yang cukup mendalam bahwa mungkin persoalan utamanya
bukan terletak pada keberadaan pawai itu sendiri, tetapi pada cara
pelaksanaannya di ruang publik. Jalan umum pada dasarnya adalah milik bersama,
sehingga ketika digunakan untuk kegiatan besar, diperlukan pengelolaan yang
lebih matang, lebih terencana, dan lebih mempertimbangkan dampaknya secara
luas. Bukan untuk membatasi kegembiraan, tetapi untuk memastikan bahwa
kegembiraan tersebut tidak menimbulkan beban yang berlebihan bagi pihak lain
yang juga memiliki hak yang sama atas ruang tersebut.
Namun lebih dari
sekadar pengaturan teknis, yang paling penting sebenarnya adalah tumbuhnya
kesadaran kolektif di dalam masyarakat. Kesadaran bahwa setiap orang memiliki
kepentingan yang berbeda tetapi hidup dalam ruang yang sama. Kesadaran bahwa
tradisi akan tetap hidup bukan karena dibiarkan tanpa batas, tetapi karena
mampu beradaptasi dengan kebutuhan zaman dan kondisi sosial yang terus berubah.
Dan kesadaran bahwa ketertiban bukanlah lawan dari budaya, melainkan bagian
dari upaya menjaga agar budaya tersebut tetap dapat dinikmati bersama tanpa
menimbulkan kerugian bagi pihak lain.
Akhirnya, dari semua
pengalaman, pengamatan, dan perasaan yang muncul di tengah pawai itu, hati ini
sering sampai pada satu kesimpulan yang sederhana namun sangat dalam. Bahwa
kehidupan di pedesaan seperti di Pamekasan dan Sumenep selalu mengajarkan tentang
keseimbangan yang tidak selalu mudah untuk dijaga. Ada saatnya menjadi bagian
dari keramaian, menikmati musik, sorakan, dan kebanggaan bersama. Tetapi ada
juga saatnya harus menjadi bagian dari mereka yang menunggu, memberi jalan, dan
bersabar dalam keterbatasan ruang dan waktu. Jika semua itu dapat dipahami
sebagai bagian dari kehidupan bersama, maka pawai imtihan tidak lagi hanya
dipandang sebagai sumber kemacetan, tetapi sebagai cermin kehidupan sosial yang
kaya, kompleks, dan penuh pelajaran tentang bagaimana manusia hidup
berdampingan dalam perbedaan kepentingan yang harus selalu dikelola dengan
kebijaksanaan.
Bakeong
08 Juni 2026
Al-Faqir
Ach
Baidlawi Bukhari
